Assalamu'alaikum Wr Wb. Dengan Rahmat Allah Swt, akhirnya blog sederhana ini kami tampilkan. Blog ini akan menjadi sarana komunikasi kami dengan masyarakat dimanapun berada, kami akan menyajikan berbagai informasi terkait kehidupan sosial masyarakat Sumatera Utara yang ada di Pulau Bali. Beberapa artikel tentang budaya dan sejarah dari Sumatera Utara juga menjadi topik blog ini. Akhir kata kami mengharapkan blog ini bermanfaat bagi saudara sekalaian khususnya masyarakat SUMUT. Wassalam @WMS BALI Note: kami menerima kiriman artikel yang sesuai dengan misi blog ini untuk dimuat silakan e-mail kami di : sahata_bali@mail.com

Jumat, 14 Oktober 2011


AKSI  'BURUH PANJAT' DI TAPANULI

Pernahkah anda melihat orang memanen kelapa?.. sudah barang tentu anda terbiasa melihatnya! namun bagaimana jika melihat memanen kelapa dengan jasa seekor monyet?... jika belum pernah melihatnya cobalah jalan-jalan ke daerah Tapanuli-Sumatera Utara, monyet atau  Beruk ( nama lain di beberapa daerah di sumatera)  sangat berperan penting dalam urusan panjat memanjat pohon kelapa, bahkan juga buah-buahan lainnya . untuk menjadikan seekor monyet menjadi 'buruh panjat' bukanlah hal mudah, butuh waktu dan proses berbulan-bulan untuk menjadi seekor monyet menjadi ' buruh panjat' profesional. dalam prosesnya tidak jarang sang pawang mendidik calon 'buruh panjat' nya menimbulkan keprihatinan para pemerhati binatang, yang lebih tragis lagi bisa berakhir dengan kematian sang calon 'buruh panjat'. namun jika berhasil menjadikannya 'buruh panjat' profesional, maka sang pawang akan mendapatkan berkah yang luar biasa. Selanjutnya 'buruh panjat' ini akan menjadi ladang uang bagi tuannya, ribuan biji kelapa bisa dipanen dalam sehari. dengan imbalan setiap 10 biji kelapa yang dipanen pawang 'buruh panjat'  akan dapat 1-2 biji kelapaa, tergantung kesepakatan pengguna jasa dengan tuan 'buruh panjat'.

Salah satu SOP 'buruh panjat' adalah dengan mengikat tali ke cicin yang ada  di leher, tali tersebut berfungsi sebagai tali komando untuk mengendalikan sang 'buruh panjat'.

beberapa instruksi yang lazim digunakan pawang 'buruh panjat'
q
Haaaah !!! (aba aba ..untuk siap menerima perintah )
ayo naik …!! (maksudnya cepat panjat )
ayo.. !!! (maksudnya agar perkerjaan yg sedang dilakukan lebih dikebut)
pilih yg masak  !! (maksudnya apabila yg mau dipanen bukan yg tandan yg paling tua )
yang muda !!! (jika ingin memanen kelapa muda)
sebelah !! (jika ingin memanen tandan lain dipohon yg sama)
seberang !! (jika ingin pindah ke pohon lainnya tanpa turun)
Turun ..! ( jika sudah selesai dipanen- malah biasanya sang buruh turun dengan cepatnya tanpa diperintah)

aneh bin ajaib, mayoritas instruksi  yang dipakai adalah bahasa indonesia, bahkan untuk pawang yang tidak mengerti bahasa indonesia sekalipun! ..Parbodat ( julukan bagi profesi sang pawang disebut di tapanuli) amatlah populer karena Tapanuli termasuk sebagai daerah penghasil  kelapa terbesar di indonesia.

Sisi lain dari ' buruh panjat' ini adalah  faktor psikologis maskulin dan feminim, Biasanya yang betina lebih mudah diperintah daripada yang jantan karena faktor diatas, berikut beberapa perbedaannya
qqq
Betina
  • Lebih kalem
  • Pekerjaannya “slow but sure”
  • tidak  melawan sama pawang dan bisa di perintah orang dewasa
  • Pemalu dan tidak begitu berbahaya kecuali bagi anak kecil atau perempuan
  • Kalau lagi musim kawin suka menyendiri
  Jantan
  • Sangat temperament /suka show of force ..
  • Pekerjaannya sangat cepat dan gesit 
  • Kalau lagi musim kawin,  sangat susah diatur
  • Berbahaya bagi orang disekitarnya bahkan tidak jarang menyerang tuannya
  • Tidak suka anak kecil
  • sering tidak menuruti perintah/ protes
  • tidak bisa dipelihara dalam waktu lama, karena kalau taringnya sudah mulai panjang, akan ada saja hal  sepele yang bikin dia menggunakan taringnya, tentunya pawangnya yang paling potensial sebagai sasaran. 

Demikian sedikit kisah 'buruh panjat' ini kami sajikan, mudah-mudahan berguna bagi kazanah budaya tanah air kita... jadi kalau suatu saat anda berkesempatan mengunjungi daerah Tapanuli-Sumut jangan lewatkan atraksi 'buruh panjat' ini

Kamis, 13 Oktober 2011

GEMPA BALI

Bali Gempa 6,8 SR, Kedalaman 10 Km

VIVAnews - Gempa berkekuatan 6,8 skala richter mengguncang Pulau Dewata. Gempa besar itu berpusat di kedalaman 10 kilometer dari permukaan laut.

Informasi yang dilansir Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa gempa berkekuatan 6,8 SR terjadi sekitar pukul 10.16 WIB di Nusa Dua, Bali, Kamis 13 Oktober 2011.

Episentrum gempa diketahui berada di lokasi 9.89 Lintang Selatan dan 114.53 Bujur Timur. Pusat gempa berada pada jarak 143 kilometer arah Barat Daya, Nusa Dua, Bali.

Belum diketahui adanya data korban jiwa, kerusakan atau korban luka akibat gempa ini. Juga belum ada informasi akan adanya gelombang tsunami atau tidak.

Tanggal 10 Maret 2011 lalu,  Bali juga pernah dilanda gempa.  Skalanya saat itu 6,6  Skala Ricther. Gempa pada Maret lalu itu  membuat sejumlah wisatawan panik. Getaran gempa saat itu  terasa hampir satu menit.

"Tidur seperti digoyang-goyang," kata Nur Farida Ahniar, wartawan VIVAnews.com yang tengah berada di kawasan Nusa Dua, Bali, Jumat, 10 Maret 2011 dini hari. Nur mengisahkan bahwa sesudah bangun, ia melihat
 kaca-kaca di kamar hotel bergetar.

Lemari kayu  berbunyi derit. Sejumlah penghuni hotel juga berlari keluar. Namun, setelah getaran hilang, mereka segera masuk kembali ke hotel.
WILLEM ISKANDER - PELOPOR PENDIDIKAN BANGSA DARI MANDAILING

 
Oleh Basyral Hamidy Harahap
Ahli sejarah dan tokoh pendidikan kawakan, Dr. Hendrik Kroemenulis bahwa orang Tapanuli boleh berbagga atas prestasi Willem Iskander sebagai satu di antara orang Indonesia pertama yang telah berhasil membuktikan kemampuannya memimpin lembaga pendidikan yang penting . Pertanyaan Kroeskamp ** ini sejalan dengan isi salah satu tajuk harian De Locomotief bulan Agustus 1876 yang terbit di Semarang, berjudul In Memoriam Willem Iskander, yang menokohkan Willem Iskander sebagai pionir pendidikan bumiputera.

Liku-liku perjuangan Willem Iskander mengangkat martabat bangsa melalui jalur pendidikan memang penuh tantangan dan tanggunjawab. Ketekunannya bekerja keras, kreativitas yang produktif dan semangat pembaharuan yang menyala-nyala telah berhasil merubah cara berfikir orang Tapanuli Selatan untuk meraih kemajuan. Ini semua dilakukan Willem Iskander satu perempat abad yang lalu, ketika sarana pendidikan dalam keadaan seba sederhana dan kekurangan.Tokoh ini terkenal di Sumatera Utara, khususnya Tapanuli, sebagai guru dan penyair. Kumpulan puisi dan cerita pendeknya berjudul Si Bulus-Bulus Si Rumbuk Rumbuk pertama kali diterbitkan oleh Landsrukkerij di Batavia pada tahun 1872. Buku ini menjadi buku sumber inspirasi cita-cita kemajuan, bahkan menjadi rujukan nasihat orangtua dan ungkapan tradisional di daerah itu. Sejak tahun 1872 kumpulan puisi dan cerita pendek berbahasa Mandailing ini merupakan buku bacaan utama di Sekolah Rendah, HIS, Sekolah Rakyat dan sekarang Sekolah Dasar, khususnya di Tapanuli Selatan. Sekalipun Willem Iskander merupakan tokoh pembaharu yang sangat besar pengaruhnya dalam membuka cakrawala berfikir untuk meraih kemajuan, namun informasi tentang ditinya terlalu sedikit. 

Penulis sebagai pengagum Willem Iskander sejak duduk di bangku Sekolah Rakyat, sangat berminat untuk membuka tabir kehidupan tokoh budayawan ini. Cita-cita itu kemudian terkabul, ketika pada tahun 1975, penulis berkesempatan mengikuti orientasi pekerjaan selama tiga bulan di kantor Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde (KITLV) di Leiden. Di sela-sela kesibukan sehari-hari, penelitian Willem Iskander dimulai dari penemuan Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk edisi pertama dalam koleksi KITLV. Penelusuran selanjutnya diteruskan ke berbagai pusat arsip di negeri Belanda pada tahun 1981 dan 1985 melalui penelitian arsip yang rumit, akhirnya dikethaui alamat-alamat yang pernah ditinggali oleh Willem Iskander (5 Alamat) dan Maria Christina Jacoba Winter-Iskander (17 Alamat) di Amsterdam. Semua alamat itu penulis temukan, termasuk makam mereka yang telah lama dicari akhirnya ditemukan pada tahun 1985. Hasil pendahuluan penelititan Willem Iskander telah penulis umumkan dalam acara peringatan tepat 100 tahun meninggalnya Willem Iskander pada tanggal 8 Mei 1976 di Geliga Restaurant, Jakarta Pusat. Pada kesempatan itu Mokhtar Lubis menyampaikan makalah tentang peta politik dan sosial budaya Mandailing pertengahan abad 19, sedangkan Adam Malik dalam sambutan tertulis menyatakan bahwa Willem Iskander bukan hanya sekedar tokoh daerah, tetapi benar-benar tokoh berkaliber nasional. Untuk menyemarakkan acara itu penulis memamerkan sejumlah dokumen tentang Willem Iskander yang ditemukan di Negeri Belanda. Pada tahun-tahun berikutnya hasil-hasil penelitian Willem Iskander penulis umumkan melalui tulisan-tulisan yang dimuat di berbagai media massa yang terbit di Jakarta dan Medan, dan dalam berbagai kesempatan ceramah tahunan tentang Willem Iskander. Sejak itu, nama tokoh modernisator ini perlahan terangkat ke permukaan pers nasional. Dari penelitian yang penulis lakukan, banyak terungkap hal-hal yang menarik tentang perjuangan Willem Iskander. Salah satu manfaat yang besar dari penelitian ini ialah terbukanya cakrawala yang lebih luas dari buku Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk. Sajak-sajaknya lebih mudah didalami maknanya yang hakiki dengan bekal peangetahuan biografi pengarangnya dan situasi sosial budaya yang melatar belakangi lahirnya sajak-sajak itu.

Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk bukan hanya sekedar judul buku. Tetapi ungkapan ini merupakan inti, perasan dari seluruh prosa dan puisi Willem Iskander yang terkandung di dalam buku ini. Apabila didalami lebih jauh lagi, ungkapan ini adalah suatu hasil kajian yang diangkat dari unsur gama dan kebudayaan. Perpaduan ini diramu sedemikian rupa sehingga terpadu menjadi ungkapan filosofis. Suatu ungkapan yang merupakan falsafah hidup yang bernafaskan agama, kebudayaan dan cita-cita kemajuan. Sekalipun ide pembaharuan Willem Iskander dikumandangkannya satu abad yang lalu, tetapi satupun dari semua ide pambaharuan itu belum ada yang usang. Ini adalah kekuatan karya Willem Iskander. Ia terlempar jauh ke masa depan zamannya. Kekuatan ini pula yang menempatkan dirinya sebagai salah seorang penerima Hadiah Seni pada 1978, setelah 102 tahun dia meninggal dunia.Naskah buku itu sendiri telah sampai di Batavia tahun 1870 untuk diteliti sebelum diterbitkan. Setelah melalui pemeriksaan antara lain komentar dari Dr. Neubronner van der Tuuk, ahli bahasa Batak yang terkenal itu, maka buku ini diterbitkan oleh pemerintah ketika itu. Edisi pertama ini dicetak oleh Landsdrukkerij (Pencetakan Negara) pada tahun 1872.  Sebelum tahun 1871 Willem Iskander sudah yakin akan berangkat lagi ke Negeri Belanda untuk kedua kalinya. Ini terungkap dalam dua bait terakhir sajak Mandailing. Rencana keberangkatan itu sendiri sudah dirintisnya sejak tahun 1866 ketika Inspektur Jenderal Pendidikan Bumiputera, Mr. J.A. van der Chijs berkunjung ke Kweekschool Tanobato. Pada kesempatan itu Willem Iskander banyak mengajukan usul untuk meningkatkan mutu sekolah-sekolah guru bumiputera di Indonesia (Hindia Belanda ketika itu). Usul-usul itu termasuk peningkatan mutu guru-guru pada sekolah guru bumiputera dengan jalan memberikan beasiswa kepada guru-guru muda. Beasiswa itu dipersiapkan sedemikian rupa dan calon-calonya diseleksi secara nasional.

Pada tahun 1869 telah direncanakan suatu tugas bagi Willem Iskander untuk membawa delapan orang guru muda masing-masing dua orang dari Mandailing, Sunda, Jawa dan Minahasa. Pada tahun 1873 sudah diketahui calon-calon penerima beasiswa itu. Tetapi ternyata bukan delapan orang. Yang berhasil memperoleh beasiswa itu hanya tiga orang yakni Banas Lubis dari Mandailing (Kweekschool), Ardi Sasmita dari Sunda (Kweekschool) dan Raden Mas Surono dari Jawa (Kweekschool Tanobato Surakarta). Willem Iskandar dengan tiga guru muda itu meninggalkan Tanjung Priok pada bulan April 1874 dengan kapal Prins van Oranje menuju Amsterdam via Terusan Suez.Bagi Willem Iskander sendiri ini merupakan tugas penting, karena selain ia menjadi pembimbing mereka (ini disebutkan dalam suatu beslit khusus), ia juga akan memperoleh kesempatan untuk memperdalam pengetahuannya tentang kebudayaan, khususnya bahasa, Kesusastraan dan musik. Ini merupakan kesempatan pula baginya untuk melanjutkan studinya yang terbengkalai satu tahun pada tahun 1861/1862. Lanjutan studi itu tidak dapat diselesaikannya pada tahun 1861/1862 karena ia terpaksa pulang ke tanah air mengingat kesehatannya yang semakin memburuk.Jadi, tidak benar apabila ada keterangan yang selama ini kita dengar bahwa Willem Iskander dibuang ke Negeri Belanda. Yang benar adalah bahwa perjalanan ke Negeri belanda itu adalah rencana matang yang telah lama dipersiapkan oleh Willem Iskander. Ia bukan saja menghubungi pejabat-pejabat resmi di Indonesia, tetapi juga beberapa orang yang berpengaruh di Negeri Belanda untuk melicinkan jalan pelaksanaan rencana itu. Antara lain dengan minta kesediaan mereka memberikan rekomendasi kepada pejabat-pejabat yang menentukan di Hindia Belanda ketika itu. Orang yang dihubungi antara lain D. Hekkar Jr., bekas gurunya di Oefenschool di Amsterdam. Sedemikian rupa terperinci rencana dan tindak lanjutnya. Kweekschool Tanobato sejak tahun 1872 sudah dipersiapkan untuk pindah ke Padangsidempuan untuk dibangun menjadi suatu Pusat Studi Batak, yang akan dipimpin langsung oleh Willem Iskander setelah kembali dari Negeri Belanda pada tahun 1876. Tetapi rencana pembaharuan itu gagal karena bukan saja Banas Lubis, Ardi Sasmita dan Raden Mas Surono yang meninggal pada masa studi itu, tetapi juga tokoh kita Willem Iskander, meninggal dunia pada tanggal 8 Mei 1876 di Amsterdam dalam usia 36 tahun. Setelah 10 tahun menelusuri jejak Willem Iskander, akhirnya dalam penelitian lapangan di Belanda pada bulan Juli 1985, penulis berhasil menemukan lokasi makam Willem Iskander di Zorgvlied, Amsterdijk, dekat sungai Amstel di Amsterdam. Makamnya sendiri telah digusur pada tahun 1947 karena tidak ada lagi yang mengontraknya. Maria Christina Jacoba Winter-Iskander sendiri telah meninggal pada tanggal 25 April 1920 di Amsterdam dalam usia 69 tahun. Jasadnya dimakamkan di Nieuwe Oosterbegraafplaats. Inilah sedikit latar belakang keberangkatan Willem Iskander yang tersirat dalam bait ke-15 dan 16 sajak Mandailing yang terdapat dalam buku Si Bulus-Bulus Si Rumpuk-Rumpuk.Seorang pemuda biasanya kalau menulis sajak, bahkan ini juga dilakukan penyair manapun, ia tidak luput dari sajak cinta dalam arti Pacar. Tetapi dalam karya-karya Willem Iskander kita tidak menemukan sajak-sajak serupa itu. Masa mudanya dikorbankannya demi suatu cita-cita pembaharuan di negeri ini.Pengamatannya amat tajam, sedemikian juga penjiwaan terhadap segala sesuatu yang hidup dalam kebudayaan dipadukannya dengan ajaran-ajaran agama. Ketajaman pengamatan dan penjiwaannya nampak misalnya dalam sajak Olo-olo. Seorang pemuda yang tentu saja belum beristeri apalagi mempunyai bayi sangat berhasil mengungkapkan nyanyian ninabobo itu. Ini bukan pula sekedar ninabobo, tetapi nyanyian ini penuh petuah, bukan untuk sang bayi yang belum mengerti apa-apa tetapi bagi mereka yang sudah berpikir supaya menarik pelajaran dari semua ajaran-ajaran yang terdapat di dalamnya. Ini suatu gambaran sederhana tentang sajak-sajak Willem Iskander, yang sengaja penulis tonjolkan sebelum membicarakan sajak-sajaknya yang lain.

Si Bulus-Bulus Si Rumpuk-Rumpuk memang suatu gudang inspirasi bagi generasi demi generasi sesudah periode Willem Iskander. Buktinya dapat kita lihat dalam sejarah pergerakan kebangsaan di Tapanuli Selatan pada awal abad ini. Para tokoh pejuang kebangsaan itu antara lain dipimpin oleh Buyung Siregar, Muhiddin Nasution, Abu Kasim Dalimunte dan Kamaludin Nasution. Mereka menggali ide kemerdekaan nasional dari buku ini dan mereka kobarkan semangat kebangsaan itu dalam rapat-rapat raksasa yang dibayangi oleh orang-orang Politieke Inlichtingen Dients (PID), polisi rahasia kolonial. Sedemikian eratnya gerakan itu dengan karya-karya Willem Iskander, sehingga dalam arsip-arsip PID gerakan itu dijuluki Groep Si Roemboek-Roemboek. Ketika tiga tokoh yang disebut pertama dibuang ke Digul sebagai tahanan politik, ancaman peredaran buku karya utama Willem Iskander ini telah terbayang. Kemudian menjadi kenyataan beberapa waktu setelah para perintis kemerdekaan itu ditangkap .

Si Bulus-Bulus Si Rumpuk-Rumpuk telah mengalami paling sedikit 10 kali cetak ulang, baik selama masa kolonial (1903, 1906, 1915) di Batavia maupun setelah kemerdekaan di Medan, Jakarta dan Padangsidempuan. Pada tahun 1976 penulis menerjemahkan buku ini ke dalam Bahasa Indonesia, yang kemudian diterbitkan dalam edisi Dwibahasa, Bahasa Mandailing dan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia, oleh penerbit PT Campusiana di Jakarta.Telah disebutkan di atas bahwa Si Bulus-Bulus Si Rumpuk-Rumpuk bukan hanya sekedar judul kumpulan prosa dan puisi karya Willem Iskander, tetapi ia merupakan suatu pandangna hidup yang dalam sekali maknanya. Untuk mengenal secara garis besar ide-ide pembaharuan Willem Iskander dan nafas keagamaan serta keakraban bertanggungjawab sesama manusia, pembicaraan mengenai buku ini sebaiknya dilakukan dengan mengelompokkan sajak-sajaknya sesuai dengan temanya.

KESIMPULAN

Apabila diambil kesimpulan dari lima tema sajak-sajak Willem Iskander (Tema Manusai Religius; Tema kasih Sayang; Tema Pendidikan; Tema Nasionalisme dan Tema Mawas Diri, maka akan nampak sejumlah prasyarat bagi manusia yang berbahagia dunia dan akhirat. Si Bulus-Bulus Si Rumpuk-Rumpuk adalah suatu perasan, suatu inti ajaran Willem Iskander. Kata-kata ini sukar dicari pandananya dalam bahasa Indonesia. Kata-kata itu memerlukan pembahasan yang khas. Oleh karena itu kata-kata ini tidak perlu diterjemahkan biarkan tetap dalam bahasa aslinya, tetapi jelaskan apa maknanya. Sama halnya dengan Tut Wuri Handayani yang diangkat oleh tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara dari filsafat hidup bangsa kita. Secara sederhana dapat disebutkan bahwa Si Bulus-Bulus Si Rumpuk-Rumpuk diartikan dengan Seia Sekata. Tetapi terjemahan ini terasa amat dangkal, sebab bukan seia sekata saja yang terkandung dalam ajaran ini, tetapi ia juga mengandungi makna bisuk yang belum ada pandanannya dalam bahasa Indonesia. Makna ajarannya masih jauh lebih luas daripada ke lima tema tersebut di atas. Tema-tema tadi hanya sekedar mengantarkan kita ke arah pemahaman karya-karya Willem Iskander. Pembahasan sajak-sajak Willem Iskander memerlukan studi tersendiri. Studi semacam ini hanya akan berhasil apabila dibekali dengan pengetahuan biografi pengarangnya dan sejarah sosial budaya yang melatar belakangi kelahiran sajak-sajak itu.

** Kroeskamp, H. Early schoolmasters in a developing country: a history of experiments in school education in 19th century Indonesia. - Assen: Van Gorcum, 1974 -p.323. 

*** Buyung Siregar, Muhiddin Nasution dan Abu Kasim Dalimunte ditangkap akhir tahun 1932 dan dipenjarakan dua tahun di Tarutung. Kemudian setelah perjalanan panjang melalui Jawa dan Ambon akhirnya tiba di tanah pembuangan Digul tahun 1935. setelah 9 tahun di Digul, mereka bertiga bersama Dugulis lainya dibawa oleh pemerintah kolonial ke Australia Utara (1944-1946). Tahun 1946 kembali ke tanah air dan aktif kembali dalam arena politik. Abu Kasim Dalimunte meninggal di Yogyakarta tahun 1947 karena sakit kolera, Buyung Siregar meninggal di Jakarta tahun 1984 sebagai perintis kemerdekaan dan Muhiddin Nasution meninggal di Ciluar, Bogor, tahun 1985 juga sebagai perintis kemerdekaan dengan jabatan terakhir sebagai anggota DPP PDI. Kamaluddin Nasution, atas nasehat Buyung Siregar berhasil menghindari penangkapan PID akhir tahun 1932 dengan hijrah ke Semenanjung. Di sana dia meneruskan perjuangan kemerdekaan dengan nama baru Abdurrahman Rahim. Tokoh ini tercatat sebagai salah seorang wartawan kawakan Malaysia (penulis tajuk Utusan Melayu 1961-1971) yang meninggal bulan Januari 1971 di Kuala Lumpur. 

Jakarta, 8 Mei 1977.
sumber : mandailing.org

Rabu, 12 Oktober 2011

MANDAILING NATAL
SEJARAH DAN ENTITAS BUDAYA

Oleh: Drs. Askolani, Kabag Humas Sekretariat DPRD Mandailing Natal

Nama Mandailing pertama kali ditemukan dalam buku Nagarakertagama. Buku itu ditulis oleh Mpu Prapanca di masa pemerintahan Majapahit. Buku itu menceritakan adanya usaha perluasan kerajaan Majapahit ke wilayah Sumatera pada abad ke-14. Atau sekitar tahun 1365 Masehi. Dikisahkan bahwa wilayah Mandailing pada masa itu masih beragama Hindu dan memuja dewa Siwa. Kerajaan Majapahit kemudian menyerang Pariaman dan Mandailing. Diduga penduduk lari ke pedalaman. Tapi di abad ke-14 marga Pulungan telah mendirikan tiga buah Bagas Godang, dan marga Nasution mendirikan kerajaan besar di Panyabungan yang menguasai Mandailing Godang.

Kerajaan Mandailing

Kapan kerajaan Mandailing mulai berdiri tidak dapat dipastikan. Tetapi reruntuhan candi di Simangambat diyakini sudah dibangun pada abad ke-8. Selain itu, kerajaan Pane sudah disebut-sebut dalam catatan-catatan Cina pada abad ke-5 masehi. Mandailing, Pane, dan Padang Lawas sering disebut-sebut secara bersamaan dalam beberapa buku. Karena itu, ada keyakinan bahwa kerajaan Mandailing sudah ada paling tidak sejak abad ke-6. 

Masuknya Agama Hindu

Agama Hindu masuk ke Mandailing dibawa oleh suku bangsa lain yang ingin mencari emas. Sebab, pada saat itu Pulau Sumatera terkenal dengan nama Swarna Dwipa atau Pulau Emas. Mereka diduga datang dari Kerajaan Kalingga di India. Kita menyebutnya orang Koling. Orang Koling masuk melalui muara Sungai Batang Gadis di Singkuang. Pelabuhan Singkuang pada saat itu sudah terkenal sebagai pelabuhan penting dan banyak dikunjungi pedagang-pedagang dari Cina. Bahkan nama Singkuang diyakini juga berasal dari bahasa Cina, yang berarti dermaga.

Teritorial Mandailing

Mandailing secara umum dikelompokkan atas tiga wilayah geografis: Mandailing Jae, Mandailing Godang, dan Mandailing Julu. Secara umum, Mandailing Jae dan Mandailing Godang diperintah oleh raja. Raja ini berkuasa secara turun-temurun. Wilayah kerajaan mulai dari lingkup desa sampai gabungan beberapa desa. Secara tradisional raja dan pembantunya dipanggil sebagai Namora-Natoras. Selain itu, ada juga yang membagi Mandailing atas dua kelompok besar, yakni Mandailing Godang dan Mandailing Julu. Mandailing Godang didominasi marga Nasution. Mereka menempati kawasan yang berbatasan dengan Sihepeng (sebelah Utara), Maga (sebelah Selatan), dan Muarasoma serta Muara Parlampungan (sebelah Barat). Mandailing Julu didominasi oleh marga Lubis. Mereka menempati kawasan mulai dari Laru dan Tambangan sampai Pakantan dan Hutagodang. Selain Nasution dan Lubis, Mandailing juga didiami marga Pulungan, Rangkuti, Batubara, Daulay, Matondang, Parinduri, Hasibuan, dan lain-lain. Sekalipun marga-marga ini berbeda masuknya ke Mandailing, tetapi tidak ada yang mau disebut sebagai warga pendatang.

Sistem Pemerintahan Tradisional

Pada awal masuknya kolonialisme, sebagian besar penduduk Mandailing Natal telah menganut agama Islam. Islam diduga masuk dari arah Pesisir Tapanuli. Tetapi ada juga minoritas penganut kristiani yang bermukim di wilayah Pakantan, Mandailing Julu.

Mandailing diperintah oleh raja yang bersifat turun-temurun. Raja terbagi atas beberapa tingkatan:

1) Raja Panusunan, yaitu raja tertinggi yang menguasai beberapa kesatuan huta.
2) Raja Ihutan, raja yang menguasai beberapa huta di bawah Raja Panusunan.
3) Raja Pamusuk, raja yang memimpin satu huta di bawah Raja Ihutan.
4) Raja Sioban Ripe, raja yang memimpin satu pagaran, satu kawasan kecil yang belum memenuhi syarat sebagai huta. Raja ini dibawah kekuasaan Raja Pamusuk.
5) Suhut, pemuka adat yang berada di bawah raja Pamusuk dan Raja Sioban Ripe.

Huta merupakan satu kawasan yang sudah memiliki dalihan natolu, namora na toras, suhu, bayo-bayo, ulubalang, datu, sibaso, sopo godang. Jika syarat tersebut belum terpenuhi, maka kawasan itu hanya disebut pagaran. Disebut pagaran karena tanahnya yang sempit dan penduduknya masih sedikit. Misalnya, Pagaran Sigatal, Pagaran Tonga. Pagaran yang tumbuh dan berkembang dapat menjadi Lumban. Misalnya Lumban Pasir. Jika penduduknya lebih kecil lagi dari Pagaran, disebut dengan Banjar. Misalnya, Banjar Sibaguri. Raja Panusunan di Mandailing Godang berasal dari satu keturunan marga Nasution yang berkuasa di 9 wilayah, yakni: 

1. Panyabungan Tonga
2. Huta Siantar
3. Pidoli Dolok
4. Gunung Tua
5. Gunung Baringin
6. Panyabungan Julu
7. Maga
8. Muarasoma/Muara Paralampungan
9. Aek Nangali.

Raja Panusunan di Mandailing Julu berasal dari marga Lubis. Mereka memerintah di enam wilayah, yakni:

1. Singengu
2. Sayur Maincat
3. Tambangan
4. Manambin
5. Tamiang
6. Pakantan.

Masuknya Belanda

Tidak jauh berbeda dengan daerah lain, kolonial Belanda masuk ke wilayah ini karena ingin menguasai kekayaan alamnya yang melimpah. Setelah Belanda menduduki Mandailing tahun 1833, mereka kemudian melakukan perubahan atas kedudukan raja. Perubahan itu antara lain:

1. Raja Panusunan diganti dengan Kepala Kuria
2. Raja Pamusuk diganti menjadi Kepala Kampung
3. Raja Ripe menjadi Kepala Ripe.

Jika sebelumnya raja hanya memiliki fungsi adat, mereka kemudian diberi kedudukan sebagai kepala pemerintahan. Barulah pada tahun 1947, Residen Tapanuli ketika itu, Dr. FL Tobing, menghapuskan kedudukan kuria itu dan menggantinya dengan Dewan Negeri.

Kekayaan Alam

Mandailing Natal diyakini sebagai daerah yang subur. Mandailing dikelilingi oleh gunung-gunung yang di tengahnya terhampar tanah yang subur dan luas. Mandailing dibelah oleh Sungai Batang Gadis yang mengalir mulai dari Mandailing Julu di bagian Timur, melintasi Selatan, menyusur bagian Barat, lalu bermuara ke Utara. Dengan begitu, kawasan Mandailing menjadi daerah yang subur dan lumbung padi pada zaman dahulu. Mandailing Julu yang terletak di kaki gunung sangat cocok untuk mengembangkan tanaman kopi. Kopi dikembangkan Belanda melalui Tanam Paksa pada abad ke 19. Tempatnya dipilih di kawasan Pakantan dan Hutagodang yang berhawa sejuk. Hasil tanaman kopi ini menjadi komoditas ekspor utama Mandailing. Bahkan kopi ini sangat terkenal sampai ke Eropah. Ada yang menyebutnya “Mandailing Coffee.” Sebagian Eropah yang lain menyebutnya “Coffee Pakant” (untuk maksud kopi Pakantan).

Selain itu, Mandailing yang banyak memiliki pohon enau, juga menjadi penghasil gula aren (gulo bargot) yang sangat terkenal di Sumatera Utara. Bahkan terkenal sampai ke Sumatera Barat. Usaha gula aren ini biasanya dijadikan tambahan penghasilan bagi keluarga, bukan usaha satu-satunya.

Di Mandailing Julu banyak ditemukan bekas penambangan emas. Ini menandakan bahwa Mandailing memang memiliki cadangan emas yang luar biasa. Misalnya bekas penambangan emas di Huta Godang yang disebut garabak ni agom, atau bekas tambang emas Belanda di Muara Sipongi. Bahkan sepanjang Sungai Batang Gadis yang bermuara ke Singkuang diyakini mengandung biji emas, sehingga masih terus banyak penduduk yang mendulang emas (manggore). Pantas kalau Mandailing disebut dengan Tano Sere. Berbagai kekayaan alam itu membuat bangsa Eropah melakukan ekspansi ke Mandailing. Bahkan sebelum Belanda masuk, Portugis sudah lebih dulu menguasai Natal. Pelabuhan Natal menjadi pelabuhan yang penting untuk mengangkut komioditas ekspor Mandailing ke Eropah.

Mandailing Natal mengalami sejarah yang panjang dalam hal pergolakan kemerdekaan. Perlawanan terhadap kolonialisme di Mandailing berawal ketika Perang Paderi meluas sampai ke daerah Mandailing. 

Pengaruh Pederi

Masuknya Paderi di Mandailing diyakini tidak hanya sekedar perluasan Islam atau kepentingan perdagangan. Sebab, sebelum Paderi masuk, Islam sudah lebih dahulu berkembang di Mandailing. Tuanku Lintau, misalnya, salah seorang tokoh gerakan Paderi, pernah belajar agama di Natal. Banyak analis yang meyakini bahwa bantuan Belanda terhadap raja-raja tradisional Mandailing untuk memerangi gerakan Paderi, juga membawa misi untuk memperluas kekuasaannya di wilayah Utara Minangkabau, termasuk Mandailing. Ketika pasukan Belanda sampai di Sundatar—sebelah Selatan Rao—Belanda menyiarkan kabar bahwa jika rakyat di wilayah itu tidak mau tunduk kepada Belanda, maka mereka akan digempur. Tahun 1832, ketika pimpinan tentara Belanda Kolonel Elout dan Letnan Engelbert berada di Rao, Raja Gadombang dari Huta Godang di Mandailing menawarkan bantuannya kepada tentara Belanda untuk ikut membasmi kaum Paderi. Sikap Raja Gadombang itu diyakini sebagai balas dendamnya atas perlakuan sewenang-wenang kaum Paderi terhadap raja-raja tradisional Mandailing. Belanda kemudian mengangkat Raja Gadombang sebagai Regen Mandailing. Tanggal 22 Januari 1833, berlangsung pertemuan antara opsir Belanda dengan Raja Gadombang, Tuanku Natal yang pro-Belanda, dan beberapa hulu balang Batak. Di samping mereka, Sutan Malayu dari Pakantan dan Datuk Gagah Tengah Hari dari Muarasipongi juga turut membantu Belanda memerangi pasukan Paderi. Kalah dari pasukan Paderi, Belanda mundur ke sebelah Utara Rao bersama 800 orang pasukan Raja Gadombang. Tanggal 28 November 1883, mereka bermalam di Limau Manis, Muara Sipongi. Esok hari, mereka bergerak ke Desa Tamiang, bertahan di sebuah mesjid. Dari Tamiang, mereka mendirikan benteng di Singengu dan Kotanopan. Tahun 1835, Bonnet, kontrolir Belanda pertama kali ditempatkan di Mandailing. Inilah jejak awal masuknya Belanda di wilayah Mandailing Natal. (www.mandailing.org)

Beberapa bentuk perlawanan kepada Belanda muncul, termasuk perlawanan dari Sutan Mangkutur, adik Raja Gadombang, dan perlawanan dari beberapa raja di Mandailing Julu. Tetapi dengan tipu muslihat, perlawanan itu segera dapat dipatahkan Belanda. Sutan Mangkutur di buang ke Jawa dengan beberapa orang kerabatnya. 

Perlawanan Terhadap Belanda

Selain perjuangan bersenjata, patut dicatat perjuangan yang dilakukan Willem Iskander untuk mencerdaskan pribumi Mandailing. Kembali dari Belanda dalam usia 22 tahun, ia mendirikan sekolah guru Kweekschool Tanobato pada tahun 1862. Sampai tahun 1874, Willem Iskander memimpin sekolah tersebut dan dapat memberikan peran pencerdasan terhadap penduduk Mandailing. Di samping itu kita patut mengenang tokoh-tokoh lain yang turut mewarnai jejak sejarah Mandailing. Mereka yang bergerak di bidang pendidikan, misalnya, tidak kecil peranannya dalam benumbuhkan kesadaran berbangsa bagi penduduk pribumi. Karena itu, kita layak menandai jasa-jasa para guru-guru Mandailing ini. Sebutlah Sutan Oloan dan Pangulu Lubis yang dikenal dengan Guru Batak yang berasal dari Pakantan. HIS Kotanopan pun memberikan peran penting dalam pencerdasan bangsa. Sekolah itu dipimpin oleh Todung gelar Sutan Gunung Mulia. Di antara guru-gurunya terdapat Sutan Soripada Mulia, tokoh yang besar jasanya dalam bidang pendidikan. HIS swasta Panyabungan memiliki guru-guru semacam Baginda Mangaraja Mulia Parlaungan yang berasal dari Pidoli Dolok. Setelah menyelesaikan sekolah di Europesche Lagere School (ELS), ia melanjutkan pendidikan ke MULO Bukit Tinggi. Dari Tamiang, dikenal guru-guru seperti Guru Nursyirwan Adil dan istrinya Guru Syamsiah Lubis (putri Sutan Guru Panusunan, Raja Tamiang XI), Guru Puncak gelar Sutan Soripada Oloan, Guru Bosur gelar Sutan Naparas, Guru Gunung gelar Baginda Raja. Dari Muara Botung dikenal Guru Gading gelar Sutan Mangaraja Enda. Tumbuhnya kalangan terdidik, mengubah bentuk perlawan terhadap Belanda. Para tokoh terpelajar Mandailing ini menandai awal gerakan kemerdekan. Untuk menandai perlawanan rakyat Mandailing kepada Belanda, didirikan beberapa monumen perlawanan rakyat.

Tugu Pahlawan Kotanopan

Tugu ini terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan, Pasar Kotanopan. Bentuk tugu kerucut dengan ukuran dasar 4 meter dan tingginya 7 meter. Tugu ini menandai heroisme perang kemerdekaan. Tokoh yang terlibat dalam perang heroik itu antara lain H. Mahals, Raja Junjungan, Sutan Singengu, dan lain-lain.

Tugu Perintis Kemerdekan Kotanopan

Tugu ini menandai perjuangan politik para perintis kemerdekaan di Mandailing. Nama-nama mereka tercatat sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan asal Sumatera Utara, antara lain: HM Ali Hanafiah Lubis, Yahya Malik Nasution, Tinggi Lubis, Makmur Lubis, H. Ayub Sulaiman Lubis, BB Abd. Rahman Parinduri, H. Adam Malik Batubara, Abdul Hamid Lubis, Buyung Siregar, Muhidin Nasution, Abu Kosim Daulay, Ilyas El Yusufi, M. Yunan Nasution, Muslim Arip Lubis, Ahmad Nasution, Abd. Gani Nasution, M. Marasudin Halim Hasibuan, Mangaraja Ihutan Lubis, Mangaraja Sayuti Lubis, Anwar Nasution, Adnan Nur Lubis, M. Taib Matondang, Ayub Lubis, Abd. Azis Lubis, KH Ahmad Nasution, dan lain-lain.

Sebagian besar diantaranya ditangkap awal tahun 1930-an. Mereka kemudian di pindahkan ke Penjara Sukamiskin Bandung bersama Soekarno yang juga ditahan di sana. Pertengahan tahun 30-an mereka dipindahkan ke kamp tahanan politik Belanda di Digul Irian Jaya. Mereka bergabung dengan tokoh-tokoh pergerakan lain yang sudah lebih dulu ada di sana, seperti Hatta, Sutan Sahrir, Sayuti Melik, dan lain-lain.

Untuk menandai jasa-jasa mereka, dibangunlah Tugu Perintis Kemerdekaan di depan Pesanggerahan Kotanopan. Tempat ini merupakan pesanggerahan terbagus di Sumatera pada abad ke-19. Bahkan Soekarno juga mengadakan rapat raksasa di tempat ini pada tanggal 16 Juni 1948.

Tugu Bendera Kotanopan

Tugu ini didirikan pada awal kemerdekaan, karena itu bentuknya sangat sederhana. Padahal, tugu ini menandai sejarah penting Mandailing, karena di tempat itu pertama kali pembacaan Proklamasi di Kotanopan. Proklamasi itu menandai berakhirnya kekuasaan kolonial di Mandailing yang bermula sejak masa Perang Paderi.

Masuknya Islam ke Mandailing Natal

Sebagaimana kepercayaan di wilayah Sumatera Utara lain, penduduk Mandailing masih percaya pada kekuatan si Pele Begu. Kepercayaan ini erat kaitannya dengan sistem kepercayaan dalam agama Budha dan Hindu yang memang ditemukan pengaruhnya di sekitar Mandailing Godang. Masa sebelum masuknya Islam disebut dengan masa kegelapan (na itom na robi). Mandailing percaya kepada kekuatan spritual Sibaso dan Datu. Datu dianggap orang yang memiliki pengetahuan khusus. Misalnya pengetahuan tentang kapan mulai bercocok tanam, menentukan hari pernikahan, menghindari bahaya, dan lain-lain. Dalam konsep modern, datu berarti orang memiliki pengetahuan medis tradisional.

Jejak Hindu di Mandailing tampak dari reruntuhan candi di Simangambat Kec. Siabu dan Saba Biara di Panyabungan. Candi itu diperkirakan berasal dari abad ke 8 dan 9 Masehi. Relief dan ornamennya menyerupai candi-candi di Jawa Tengah. Atau Pilar Batu di desa Maga yang bertuliskan aksara Jawa Kuno bertanggal 9-9-1242.

Masuknya Islam ke Mandailing tidak dapat dilepaskan dengan Perang Paderi (1821-1838). Masuknya pasukan Paderi dari Sumatera Barat telah mendorong perubahan sosial dalam tatanan masyarakat Mandailing. Sebelumnya memang sudah ada beberapa orang Mandailing yang belajar Islam di Bonjol. Tetapi ketika pasukan Paderi masuk, mereka melakukan peng-Islam-an lagi secara besar-besaran. Kelompok Paderi ini sangat dipengaruhi oleh konsep ideologi Arab. Mereka sering disebut dengan “Orang Putih.” Kelompok Paderi ini memiliki pola tingkah laku tertentu. Dja Endar Moeda, misalnya, salah seorang penulis buku tentang Mandailing di abad ke-20, mengatakan bahwa:

“Adapoen orang poetih itu tiada boleh merokok, makan sirih, menjaboeng. Segala perempoean bertoetoep muka. Segala orang jang melanggar peratoeran ini, dihoekoemnya dengan hoekoeman seksa yang amat berat.”

Sikap keras seperti itu tentu saja mendapat perlawanan dari raja-raja Mandailing ketika itu yang masih didominasi tatanan tingkah laku adat. Perlawanan dilakukan oleh paksi pro-Adat, Patuan Naga dan Raja Gadombang. Patuan Naga adalah Radja Panoesoenan di Panyabungan, Mandailing Godang. Raja Gadombang, Raja Huta na Godang. Tetapi dua tokoh penting Padri ketika itu yang membawahi Mandailing, Tuanku Tambusai (Pakih Saleh) dan Tuanku Rao, membalas dengan melakukan penyiksaan bagi mereka yang menolak tata hidup yang dibawa Paderi. Selain dipengaruhi ideologi “jihad” yang mereka ambil dari Arab, kelompok Paderi ini juga membawa nilai-nilai kemerdekaan dan anti kolonialisme. Selama Perang Paderi, Tuanku Tambusai, setelah pulang dari Mekah mengajarkan Islam di wilayah Padang Lawas, Padang Bolak, Sipirok, dan Mandailing. Tahun 1995, Tuanku Tambusai diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Tuanku Rao mengganti namanya menjadi Pakih Muhammad. Ia merupakan Imam Besar di Rao, diyakini merupakan keturunan Lubis dari Hutagodang. Selama satu dekade, Paderi mendominasi wilayah Mandailing melalui kekuasaan qadi. Kekuasaan qadi merupakan bentuk yang sangat efektif untuk menunjukkan bentuk pemerintahan Islam ketika itu. Qadi bukan sekedar membawa pengaruh nilai-nilai islam, tetapi juga memiliki pengaruh sosial-ekonomi dan politik. Dengan gelar haji, mereka identik dengan seseorang yang memiliki pengetahuan agama yang luas dan mampu membawa nilai-nilai persaudaraan Islam (ummah) di Mandailing dengan dunia Arab secara luas. Mereka juga membawa budaya Islam ke Mandailing. Jika di Minangkabau Paderi membawa konsep Adat Basandi Syarak, maka di Mandailing diubah menjadi Ombar adat dohot ugamo. Konsep ini yang menjadi cikal bakal konsep Islam Mandailing sampai saat ini. Orang-orang mulai mengalihkan nama-nama tradisionalnya dengan nama-nama yang berbau Arab. Sejak saat itu, marga dinilai tidak begitu penting lagi di wilayah Mandailing, karena lebih mementingkan nilai-nilai persaudaraan muslim.
Periode Padri ini di Mandailing disebut dengan maso di na rinca (Periode Tuanku Nan Renceh), nama salah seorang pemerintahan Padri di Mandailing.

Sumber: http://www.mandailingonline.com  

* KULINER KHAS MANDAILING *

* KULINER KHAS MANDAILING *

Kuliner khas  Mandailing begitu banyak, dan punya cita rasa kuat dan aroma menggoda. hal tersebut memberikan ciri khas tersendiri bagi etnismandailing. Makanan bukan sekedar kebutuhan fisik tetapi juga memainkan peranan dalam konteks budaya yang luas. Berikut beberapa kuliner khas  etnis Mandailing.


Gulai Bulung gadung, kuliner ini terbuat dari daun singkong yang ditumbuk pakai lesung ( kalau dikota biasanya susah cari lesung, sebagai pengganti lesung bisa pakai blender namun dengan tehnik khusus). santan kelapa sebagi kuah dan ditambahkan bumbu lainnya seperti cabe, bawang , terong poka/ rimbang* lengkuas dll
gule daun singkong


Gulai Ikan Sale, Ikan lele yang di asap sampai benar-benar kering, dimasak dengan santan kelapa dan bumbu-bumbu lainnya, terkadang juga ditambahkan daun singkong yang ditumbuk atau kentang.

 gulai ikan sale
note : kuliner ini termasuk idola di pengajian rutin WMS Bali 
  
Gulai Ikan Mas,kuliner ini sangat populer di Mandailing, ikan mas dimasak dengan kuah santan. Bumbu-bumbu: bawang merah, bawang putih, kunyit, cabe merah, serai, lengkuas, jeruk nipis, jahe, daun jeruk, daun salam dan garam.


Sambal Tuk-tuk, bahan utamanya adalah ikan asin kecil/ikan teri tanpa kepala. Bumbunya: jeruk nipis, minyak kelapa (untuk menumis), cabe merah, bawang merah, garam dan gula pasir. Sambal Tuk-tuk umumnya dijadikan saus untuk "dicolek" dengan sayuran rebus seperti daun ubi.   

sambal tuk tuk

Gulai Ikan Teri, dimasak memakai santan dengan bumbu: cabe merah, cabe kering, bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, serei, kunyit, daun kunyit dan parutan kelapa (untuk santan).


Dan banyak lagi ..


Makanan khas Mandailing lainnya..

alame / dodol khas mandailing/sumut

 alame/dodol yg sudah di potong-potong

 Toge khas panyabungan


 Bika ambon - oleh oleh khas dari medan


Demikian sekelumit kecil tentang kuliner khas mandailing, salah satu suku di sumatera utara tepatnya di kabupaten mandailing Natal. mudah-mudahan bermanfaat

sumber

Selasa, 11 Oktober 2011

SUSUNAN PENGURUS WMS BALI

SUSUNAN PENGURUS 
WARGA MUSLIM SAHATA BALI  
  PERIODE  2011 S/D 2013

DEWAN PENASEHAT

IKHSAN NASUTION
NASRUDDIN HASIBUAN


KETUA  :  M. PULI DALIMUNTE
WAKIL KETUA  : RAMLAN PANGGABEAN 

SEKRETARIS :  ZULKARNAIN LUBIS
SEKRETARIS I  :  AIDIL FITRI 
SEKRETARIS II :  RIDO HARAHAP

BENDAHARA  :   ISMAT LUBIS
BENDAHARA I   :  AMMAR LUBIS
BENDAHARA II :  ABDUL  HADI NASUTION

KABID HUMAS  :  PARULIAN NASUTION
HUMAS I  :  SALAMAT NASUTION
HUMAS II  :  ARNOL NASUTION
HUMAS III  :   FAISAL NASUTION (UBUD)
HUMAS IV :  ASRUL MATONDANG

KABID DAKWAH  :  ASLI LUBIS
ANGGOTA  :  M. DAHLER HASIBUAN
ANGGOTA :  SOLAT BATUBARA

KABID PERLENGKAPAN & INVENTARIS    :   SULTHONY HARAHAP
ANGGOTA :   RAHMAT DALIMUNTE
ANGGOTA :  KEDAN PULUNGAN



TTD
Pengurus WMS Bali

HIMPUNAN WARGA MUSLIM SUMATERA UTARA SUDAH TERBENTUK!

Alhamdulillah HIWAMSU singkatan dari Himpunan Warga Muslim Sumatera Utara sudah terbentuk ( 10/10/2011) organisasi ini akan menjadi induk dari Organisasi-organisasi Muslim Sumatera Utara yang ada di Bali. ketua Umum HIWAMSU Bpk. HM Yusri Nasution akan menakhodai organisasi ini setidaknya 1 (satu) tahun kedepan.

Salah satu tugas terberat adalah menyatukan semua visi para pimpinan organisasi-organisasi yang tergabung dalam HIWAMSU agar dapat bersinergi dengan baik, dan yang tak kalah pentingnya adalah menyiapkan aturan main organisasi berupa AD/ART Organisasi. mudah-mudahan keikhlasan para pengurus mendapat ridho dari Allah SWT, amien..

Selamat bekerja..saudaraku-saudaraku!

Note : Organisasi Muslim asal Sumatera Utara di Pulau Bali
  • Warga Muslim Sahata ( disingkat dengan WMS) Bali
  • Saroha
  • Ikanas
  • Warga Muslim Siala Sampagul
  • Kinantan